AMALAN LENYAP TANPA SADAR

AMALAN LENYAP TANPA SADAR

Seorang yang beramal saleh, bisa jadi amalannya terhapus tanpa ia sadari. Mengerikan bukan? Amat sangat mengerikan. Lalu apa sebabnya? Jawabnya ada pada penjelasan Syaikh Masyhur hafizhahullah berikut ini. Silakan dibaca. Semoga bermanfaat.

Pertanyaan keenam: Bukhari berkata di (kitab) Shahih-nya: Bab: Ketakutan Mukmin Dari Terhapusnya Amalan Tanpa Ia Sadari. (Apa maksudnya?)

Jawabnya: Ada riwayat dari Ibnu Mas'ud, ia berkata: "Dahulu kami bermaksiat, kami memandang maksiat itu seperti gunung-gunung besar.  Adapun seorang dari kalian sekarang, ia berbuat maksiat seakan-akan kemaksiatan itu seperti seekor lalat yang menempel di hidungnya, lalu ia mengusirnya (diremehkan)." Kalimat ini Ibnu Mas'ud sampaikan kepada generasi Tabi'in. 

Adapun keadaan kita, sebagian orang berbuat maksiat, namun bisa jadi ia mengira sudah benar ibadahnya kepada Allah.

Suatu waktu ada seorang wanita berkata kepadaku: "Wahai Syaikh, tolong ruqyah aku." Saat itu aku sedang berada di pertokoan. Aku melihatnya, ia mengenakan pakaian yang sangat tidak baik (tidak berhijab syar'i). 

Aku katakan kepadanya: "Saudariku, ruqyahku tidak akan bermanfaat bagimu kalau engkau berpakaian seperti ini."

Ia berkata: "Setan telah membisikiku agar aku melepas hijab ini."

Aku bertanya: "Hijab yang mana? Pakaianmu sekarang ini menurutmu hijab?! Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk. Ini namanya *perubahan*. Dan Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah mengabarkan kepada kita tentang adanya perubahan di akhir zaman. Ulama menjelaskan bahwa perubahan dimulai dari dalam diri. Kemudian ia menguat, menguat dan terus menguat hingga tampaklah di luar perubahan tersebut.

Maka, siapa yang meremehkan apa yang Allah agungkan dan mengagungkan apa yang Allah remehkan, atau siapa yang menghalalkan apa yang Allah haramkan dan mengharamkan apa yang Allah halalkan, maka orang tersebut korban perubahan. 

Namun, ia menjadi korban perubahan dari mana? Dari dalam diri. Apabila perubahan tersebut ada pada dirinya, lalu ia semakin berani, maka perubahan tersebut akhirnya akan keluar (ditampakkan).

Jadi, yang dapat menghapuskan amalan adalah berbagai kemaksiatan dan ketidaktaatan kepada Allah azza wa jalla dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam. Allah berfirman: "

Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah, taatlah kepada Rasul, dan janganlah kalian merusak amalan-amalan kalian."(QS. Muhammad: 33)

Ini ayat yang menakutkan dan membuat goncang. Ayat ini menunjukkan bahwa seorang yang tidak teguh dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam amalannya dapat terhapus.

Oleh karena itu, kemaksiatan-kemaksiatan dapat menghapuskan amalan. Terutama kemaksiatan yang dikerjakan dikala sendiri. Kita semua ingat hadis Tsauban radhiyallahu 'anhu yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, al-Bazzar dan yang lain, (bahwa) pada hari kiamat datang seorang dengan membawa kebaikan-kebaikan sebesar gunung Tihamah, kemudian menjadi bagaikan debu yang beterbangan. Kebaikan-kebaikan tersebut lenyap. Ketika Nabi shallallahu alaihi wa sallam ditanya tentang itu beliau menjawab: "Sesungguhnya mereka itu, apabila menyendiri mereka menerjang hal-hal yang diharamkan Allah." Ternyata ketika menyendiri ia melakukan apa yang diharamkan Allah.

(Selain di atas-pen) 'Ujub (bangga terhadap diri-pen) juga dapat menghapuskan amalan. Riya' (beribadah dengan niat mendapatkan pujian manusia-pen) pun dapat menghapuskan amalan. Secara umum, kemaksiatan-kemaksiatan dapat menghapuskan amalan.
Oleh karena itu, generasi salafus saleh dahulu, apabila beramal saleh mereka merasa takut/khawatir. Allah berfirman: 

"Dan orang-orang yang memberikan apa yang mereka berikan sementara hati mereka penuh rasa takut (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka." (QS. al-Mukminun: 60)

Ia mengerjakan ketaatan-ketaatan. Ia melakukan ibadah-ibadah. Ia membaca al-Quran, berzikir, namun hatinya merasa takut.

Apa arti "Sementara hati mereka (Yakni) takut. Takut dari apa? Takut amalannya tidak diterima. Oleh karena itu, seseorang dalam kehidupan ini berada di antara rasa takut dan rasa harap. Tidak boleh terputus rasa harapnya. Tidak boleh juga ia berputus asa. Tidak boleh ia cenderung kepada rasa harap, tapi meninggalkan rasa takut. 

Kesimpulannya, seorang hamba yang beriman di hatinya ada rasa takut dan rasa harap.

Apabila ia sudah tua, sudah terkumpul padanya tanda-tanda dekatnya kepada Allah, ajalnya kian dekat, dan sudah tampak tanda-tanda dekatnya kematian, sebaiknya ia lebih menguatkan rasa harap. Sebab Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: 

"Janganlah seorang dari kalian meninggal dunia melainkan dalam keadaan berprasangka baik kepada Allah."

Maka apabila engkau mendapati seorang dari kerabatmu, yang memiliki hak yang harus engkau tunaikan, seperti ayah, paman, dll., dan engkau melihat tanda-tanda kematiannya sudah dekat, ia pun dalam keadaan sakit, maka ingatkanlah dirinya agar menguatkan rasa harap kepada Allah. Ingatkanlah pula ia agar memperbanyak amal saleh.

Adapun seorang yang masih muda, sebaiknya ia lebih menguatkan rasa takut dari pada rasa harap, agar ia tidak berlebihan berharap rahmat Allah, tidak menerjang apa-apa yang diharamkan Allah, dan tetap jauh dari apa yang diharamkan Allah tersebut. Allahu a'lam. 


Comments

Popular posts from this blog

DEDIKASI UMUR 55 TH KEATAS (HARUS DIBACA NIH BAGUS)

AL-QUR’AN DAN PERNIAGAAN YANG TIDAK MERUGI

JAUHILAH UCAPAN YANG TIDAK BERMANFAAT!ㅤ